Dugaan Korupsi Jalan Lingkar Barat Duri, Kadis PUPR Bengkalis Diperiksa KPK

Posted on February 18, 2021

PEKANBARU – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak Senin awal pekan lalu berada di Pekanbaru, Riau untuk melakukan pemeriksaan saksi dalam perkara tindak pidana korupsi (tipikor).

Adapun saksi yang diperiksa tim penyidik, terkait dengan perkara tipikor proyek pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri (multiyears) di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Tahun Anggaran 2013 – 2015.

Dalam perkara ini, dua tersangka yakni Handoko Setiono selaku Komisaris dan Melia Boentaran selaku Direktur PT Arta Niaga Nusantara (ANN), sudah ditahan oleh penyidik KPK.

“Hari ini pemeriksaan saksi untuk tersangka MB (Melia Boentaran, red). Tempat pemeriksaan di Polda Riau,” kata Plt Juru Bicara (Jubir) KPK, Ali Fikri, Kamis (18/2/2021) dikutip dari tribunpekanbaru.

Saksi yang diperiksa hari ini disebutkan Ali, berjumlah 8 orang.

Di antaranya Kepala Dinas (Kadis) PUPR Bengkalis, Ardiansyah. Dia diperiksa dalam kapasitasnya sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Bengkalis.

Saksi berikutnya adalah Ngawidi, yang saat ini menjabat Kabid Pelayaran Dishub Bengkalis.

Dia periksa dalam kapasitasnya sebagai Kabid Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Bengkalis, atau Ketua Panitia Penerima Hasil Pekerjaan Multiyears Tahun Anggaran 2013-2015 Dinas PU Kabupaten Bengkalis.

Berikutnya, M Rafi, Agus Sukri, Lutfi Hendra Kurniawan, Safari, Helmy, dan Rudi Rinaldo. Kesemuanya PNS di Kabupaten Bengkalis.

Untuk kepentingan penyidikan, KPK menahan para tersangka masing-masing selama 20 hari. Terhitung sejak 5 Februari 2021 sampai dengan 24 Februari 2021.

Baca Juga:  Antisipasi Kerusakan Bahkan Kerugian Pengebor Air di Riau Perlu Bersertifikasi

Tersangka Handoko Setiono, ditahan di Rutan Klas I Jakarta Timur Cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur.

Sementara tersangka Melia Boentaran, ditahan di Rutan Klas I Jakarta Timur Cabang KPK di Gedung Merah Putih.

Sebagai upaya untuk tetap mencegah penyebaran Covid 19 di lingkungan Rutan KPK, maka para tersangka terlebih dahulu dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari di Rutan KPK Kavling C1.

Adapun pengumuman status tersangka keduanya, dilakukan KPK pada Januari 2020 lalu.

Dengan dugaan para tersangka telah menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dalam pengadaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek multiyears peningkatan Jalan Lingkar Bukit Batu – Siak Kecil, Bengkalis, tahun anggaran 2013 sampai 2015.

Dalam perkara ini, KPK sebelumnya juga telah menetapkan M Nasir selaku PPK dalam proyek peningkatan jalan lingkar Bukit Batu-Siak Kecil dan telah diputus bersalah berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA).

Ratusan orang saksi sudah diperiksa. Diantaranya pejabat terkait penganggaran, pejabat terkait pengadaan, pejabat terkait lelang proyek, pejabat terkait pelaksanaan proyek, pihak swasta yang terdiri dari supplier maupun subkontraktor yang terlibat dalam pelaksanaan proyek pengadaan.

Baca Juga:  25 Pelamar Rebutan 3 Kursi Kepala OPD Pemprov

Atas perbuatannya kedua tersangka tersebut disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun konstruksi perkara, diduga dalam pengadaan proyek ini, Handoko Setiono diduga berperan aktif selama proses lelang untuk memenangkan PT ANN.

Padahal sejak awal lelang di buka PT ANN telah di nyatakan gugur ditahap prakualifikasi.

Namun dengan dilakukannya rekayasa bersama dengan beberapa pihak di Dinas PUPR Kabupaten Bengkalis berbagai dokumen lelang fiktif sehingga PT ANN dinyatakan sebagai pemenang tender pekerjaan.

Tersangka Melia Boentaran, juga diduga aktif melakukan berbagai pertemuan dan memberikan sejumlah uang kepada beberapa pejabat di Dinas PUPR Kabupaten Bengkalis, agar bisa dimenangkan dalam proyek ini.

Dalam proyek ini pun diduga ditemukan berbagai manipulasi data proyek dan pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang di tentukan.

Diduga dalam proyek ini telah terjadi kerugian keuangan negara sekitar sejumlah Rp156 miliar dari total nilai kontrak Rp 265 miliar. (*)

Berita Lainnya

It seems we can’t find what you’re looking for. Perhaps searching can help.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *