Ketua Komnas Anak Indonesia Sebut Polda Riau Masih Berutang Kasus Anggelika

Posted on August 26, 2020

PEKANBARU, PENRIAU.INFO – Kasus kejahatan terhadap anak kian marak di wilayah Provinsi Riau. Sang predator sendiri kebanyakan diketahui masih orang terdekat korban. Bahkan masih ada yang bebas berkeliaran tanpa tersentuh hukum.

Seperti yang dialami gadis cilik usia 11 tahun, Anggelika Boru Pardede. Jasadnya ditemukan di semak-semak belukar, daerah Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar medio 2016 silam. Diduga kasusnya belum terungkap Polda Riau.

“Saya gemes kali dengan Riau, kasus ini (Anggelika,red) tak terungkap. Tak ditangani serius oleh Polda Riau. Ini kasus mengerikan sekali,” ucap Ketua Umum Komisi Perlindungan Nasional Anak (Komnas Anak) Indonesia, Arist Merdeka Sirait, kepada halloriau.com.

Sejak kasusnya bergulir, penanganan kasus Anggelika sudah dilimpahkan ke Polda Riau dari Polsek Siak Hulu. Sejumlah temuan di lapangan, telah membuktikan arah pelaku sebenarnya. Sendal, sepatu dan kacamata korban ada di lokasi.

“Padahal barang bukti, sendal dan sepatu ditemukan di lokasi temuan mayat korban. Kasus ini hampir 3 tahun lebih, diduga Polda Riau tak mampu mengungkap kasusnya,” kesalnya.

Menurut dia, kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur, khususnya di wilayah Provinsi Riau, sudah sangat tinggi. Mirisnya, para pelaku kejahatan seakan kebal dari hukuman pihak kepolisian setempat.

Proses penindakan hukum yang dilakukan pihak polisi, bisa dikatakan mandul. Terbukti, diduga belum tuntasnya kasus pembunuhan Anggelika pada tahun 2016, Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

“Saya rasa, Polda Riau saat ini masih berhutang terkait kasus anggelika,” tegas Arist, Rabu (26/8/2020).

Baca Juga:  Polresta Pekanbaru Ringkus 8 Pelaku Jaringan Narkoba dari Malaysia

Menurut Arist, kala itu dirinya tiba di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, saat menangani kasus pembantaian anak. Bahkan kasus ini sempat menjadi isu nasional.

“Tapi sayangnya, tak diteruskan. Bahkan kasus mutilasi terus dilakukan. Singkatnya, selama kurang lebih 5 tahun situasi Riau dalam menangani permasalahan anak tak kondusif,” tuturnya.

Belajar dari kasus ini, Arist menyimpulkan sejak 3 tahun lalu, dirinya telah menyatakan Provinsi Riau masuk Zona Merah, terkait kejahatan terhadap anak. Selain kasus penelantaran anak.

“Kesimpulannya, sampai saat ini, Riau masih posisi zona merah kekerasan terhadap anak. Karena 52 persen itu merupakan penganiayaan dan pelecehan seksual. Harus diatasi. Disini juga ada yang dikatakan gang red (perkosaan massal,red) yang dilakukan oleh dua orang lebih terhadap satu korban,” terang Arist.

Fakta data yang terjadi di beberapa kabupaten, khususnya kejahatan seksual kepada anak di Riau sudah mencapai 52 persen. Menurut dia, sejak tahun 2018-2019 angka kejahatan seksual terhadap anak di angka 48 – 52 persen. Belum terhitung tahun 2020.

“Ini yang saya sebutkan Riau darurat atau zona merah. Saat ini 52 persen di Riau adalah kejahatan seksual terhadap anak. Makanya saya bilang Riau darurat kejahatan seksual. sehingga Riau zona merah. Ditambah lagi, adanya sosial baru dipengaruhi teknologi, narkoba dan pornografi,” ucapnya.

Atas dasar itu, dia minta kepada Kapolda Riau, agar dapat membongkar kasus kejahatan terhadap anak termasuk Anggelika. Kasus serupa juga terjadi di Provinsi Bali yang katanya juga belum terungkap.

Baca Juga:  Ditikam 7 Tusukan Gunting, Pemuda Payung Sekaki Pekanbaru Tewas di Tangan Pemulung

“Saya nilai ini telah gagal, setingkat Polda Riau sampai saat ini kasusnya masih belum jelas. Ini prioritas anak. Dan pelakunya sendiri itu sebagaian besar adalah orang-orang terdekatnya,” kata Arist.

Terpisah, Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Riau, Muspidauan saat dihubungi halloriau.com, Rabu (26/8/2020) siang di Pekanbaru, mengatakan tak mengetahui pasti pekembangan kasus tersebut.

“Kita gak tau itu, coba tanya sama pihak polisi. Kasus pidana umum ini ditangai polisi,” kata Muspidauan.

Lebih lanjut, saat ditanya sejauh mana kasus ini setelah diterbitkannya Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus Anggelika ini, menurut Muspidauan, pihaknya belum menerima berkas perkaranya. Bahkan, dirinya menyarankan pastikan dari pihak polisi.

“Berkas perkas (limpahan,red) tak tau kita. Banyak perkaranya yang ke kita. Tanya polisi (Polda Riau,red), pastikan dulu, baru ke kita,” singkat Muspidauan.

Sebelumnya, jasad diduga Anggelika ditemukan pada 23 Maret 2016. Sebelumnya gadis 11 tahun itu dilaporkan menghilang sejak 9 Maret 2016. Saat ditemukan, jasad itu sudah tinggal tulang.

Orang tua korban, Salomon Pardede juga sudah menyatakan yakin jasad yang ditemukan itu adalah anaknya. Sebelum menghilang bocah itu pamit dari rumah untuk meminjam buku. Setelah itu, korban tak pernah pulang ke rumah hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. (Hallo Riau)

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *