KOMNAS HAM tidak yakin laporan kematian 6 orang anggota laskar FPI sampai kepengadilan internasional

Posted on January 26, 2021
Penulis Achmad Nasrudin Yahya | Editor Bayu Galih JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) tak yakin pelaporan kematian enam laskar Front Pembela Islam ( FPI) ke International Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, sampai pengadilan. Sebab, Indonesia bukan negara anggota Mahkamah Internasional karena belum meratifikasi Statuta Roma. “Karena itu, Mahkamah Internasional tidak memiliki alasan hukum untuk melaksanakan suatu peradilan atas kasus yang terjadi di wilayah jurisdiksi Indonesia, sebab Indonesia bukan negara anggota (state party),” ujar Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik dalam keterangan tertulis, Senin (25/1/2021).
Adapun pelaporan kasus ini ke Mahkamah Internasional dilakukan Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) atas tewasnya enam laskar FPI yang digawangi Amien Rais dan koleganya. Pelaporan ini berangkat dari kekecewaannya atas temuan Komnas HAM dalam kasus ini. Taufan menjelaskan, Mahkamah Internasional lahir sebagai complementary untuk melengkapi sistem hukum domestik negara-negara anggota Statuta Roma. Ia menyatakan, Mahkamah Internasional bukan peradilan pengganti atas sistem peradilan nasional suatu negara. Dengan demikian, Mahkamah Internasional baru akan bekerja bilamana negara anggota Statuta Roma mengalami kondisi “unable” dan “unwilling”.
Sesuai Pasal 17 Ayat (3) Statuta Roma, kondisi “unable” atau dianggap tidak mampu adalah suatu kondisi di mana telah terjadi kegagalan sistem pengadilan nasional secara menyeluruh ataupun sebagian. Akibat kegagalan tersebut, sistem peradilan di negara tersebut tidak mampu menghadirkan tertuduh atau bukti dan kesaksian yang dianggap perlu untuk menjalankan proses hukum. Sementara, “unwilling” atau kondisi tidak bersungguh-sungguh, menurut Pasal 17 Ayat (2) Statuta Roma, adalah kondisi bila negara anggota dinyatakan tidak mempunyai kesungguhan dalam menjalankan pengadilan. “Jadi, sesuai dengan prinsip primacy, kasus pelanggaran HAM berat tadi mesti melalui proses pengadilan nasional terlebih dahulu, Mahkamah Internasional tidak bisa mengadili kasus tersebut bila peradilan nasional masih atau telah berjalan,” kata Taufan.
Penulis : Achmad Nasrudin Yahya
Editor : Bayu Galih

Baca Juga:  Positif Covid-19 di Riau Tambah 173 Kasus, 6 Pasien Meninggal
Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *